Selasa, 08 Desember 2015

Analisis Kemiskinan yang terjadi di Provinsi Sumatra Barat

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1              LATAR BELAKANG.............................................................................
1.2              TUJUAN PENULISAN...........................................................................
1.3              MANFAAT KUPANG............................................................................
BAB II PERMASALAHAN
2.1       KONSEP......................................................................................          
2.2       SUMBER DATA.........................................................................
2.3       INDIKATOR KEMISKINAN...................................................
2.4       KONSEP DAN DEFINSI...........................................................
BAB III
3.1       DESKRIPSI.................................................................................
3.2       ANALISIS....................................................................................
BAB IV PENUTUP
4.1       KESIMPULAN............................................................................
4.2       SARAN.........................................................................................
4.3       DOKUMENTASI........................................................................
4.3       DOKUMENTASI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       LATAR BELAKANG
Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di Negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung Strategi Penanggulangan Kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran.Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya dapat menjadi instrument tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi hidup orang miskin.Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi mereka.
Badan Pusat Statistik (BPS) pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin pada tahun 1984.Pada saat itu penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin mencakup periode 1976-1981 dengan menggunakan data modul konsumsi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susena).Sejak tahun 1984, setiap tiga tahun sekali BPS secara rutin mengeluarkan data jumlah dan persentase penduduk miskin.Sampai dengan tahun 1987, informasi mengenai jumlah dan persentase penduduk miskin hanya disajikan untuk tingkat nasional yang disahkan menurut daerah perkotaan dan perdesaan.Pada tahun 1990, informasi mengenai penduduk miskin sudah dapat disajikan sampai tingkat provinsi meskipun beberapa provinsi masih digabung. Provinsi-provinsi gabungan tersebut antara lain: Provinsi Jambi, Bengkulu, Timor Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku. Dan Papua. Selanjutnya sejak tahun 1993, informasi jumlah dan persentase penduduk miskin sudah dapat disajikan untuk seluruh provinsi.Selanjutnya, BPS menyajikan data dan informasi kemiskinan untuk tingkat kabupaten/kota dengan menggunakan data Susenas Kor (tahun 2008 menggunakan susenas modul konsumsi).Tahun 2011, Susenas modul konsumsi dilakukan setiap triwulan dengan jumlah sampel sekitar 75.000 rumah tangga per triwulannya.


1.2              TUJUAN PENULISAN
§  Mengetimasi jumlah dan persentase penduduk miskin menurut kabupaten/kota 3 tahun terakhir antara tahun 2010, 2011, 2012.
§  Mengetahui karakteristik rumah tangga miskin dan tidak miskin kabupaten/kota 3 tahun terakhir antara tahun 2010, 2011, 2012.

1.3              MANFAAT KUPANG
Dapat mengetahui serta belajar menganalisa data-data yang ada, mendapatkan pengalaman langsung dalam mewawancarai lembaga terkait tentang “bagaimana perkembangan kemiskinan pada 3 tahun terakhir”. Serta dapat memenuhi persyaratan proses perkuliahan pada matakuliah ekonomi perencanaan.
BAB II
PERMASALAHAN
                                                          
2.1       KONSEP
·         BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) dalam mengukur tingkat kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makan yang diukur dari sisi pengeluaran.
·         Sensus penduduk dilakukan untuk seluruh populasi, dilakukan pada tahun akhiran 0. Sensus penduduk pertanian dilakukan pada tahun berakhiran 3, sedangkan sensus ekonomi pada tahun berakhiran 6. Sensus ekonomi ini dalam 10 tahun 3x dilaksankan dengan sample. Sedangkan survey dilakukan 2005 dan 2010, 2005 adalah survey penduduk antar sensus.
Dari hasil sensus dan survey, BPS lah yang mengelola datanya dan langsung diserahkan ke pemerintah. (wawancara oleh GUSNAIDI, SUBBAG KEPEG).
      
2.2       SUMBER DATA
·         Sumber data yang digunakan untuk menghitung kemiskinan di tingkat kabupaten/kota adalah data Susenas Modul Konsumsi Triwulan I, II, III DAN IV tahun 2011. Keempat set data (Susenas triwulan I, II, III dan IV) dilakukan penggabungan sehingga jumlah sampel sekitar 300.000 rumah tangga. Data Susenas gabungan tersebut dipergunakan untuk estimasi kemiskinan tingkat Kabupaten/kota.
·         Data Susenas modul konsumsi gabungan di olah menjadi data yang mewakili kondisi bulan September 2011 (triwulan III). Pengolahan dilakukan dengan melakukan normalisasi nilai pengeluaran konsumsi ke kondisi bulan September 2011. Normalisasi dengan melakukan inflate/deflate (inflasi implisit) terhadap nilai pengeluaran konsumsi yang dibedakan konsumsi makanan dan bukan makanan.
2.3       INDIKATOR KEMISKINAN
§  Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK).
§  Indekx Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) yang merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap GK. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari GK.
§  Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index-P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
§  Foster-Greer-Thorbecke (1984) telah merumuskan suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan.

Pα =

di mana:
α          = 0, 1, 2
z          = GK
y1         = rata-rata pengeluaran perkapita sebulan penduduk yang berada di bawah GK
            (i= 1, 2, 3, ….. q), y1 < z
q          = banyaknya penduduk yang berada di bawah GK
n          = jumlah penduduk

jika α=0, diperoleh Head Count Index (P0), jika α=1 diperoleh Indeks kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) dan jika α=2 disebut Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index-P2).

2.4       KONSEP DAN DEFINSI
PENDIDIKAN
·         Angka melek huruf (dewasa) adalah proporsi seluruh penduduk berusia 15 tahun ke atas dapat membaca dan menulis dalam huruf Latin atau lainnya. Publikasi ini hanya menyajikan angka melek huruf penduduk miskin menurut kelompok umur 15-24 tahun 15-55 tahun. Melek huruf yang dimaksudkan di sini adalah melek huruf latin dan huruf lainnya.
·         Angka partisipasi sekolah adalah proporsi dari seluruh penduduk dari berbagai kelompok umur tertentu (7-12, 13-15, 16-18, dan 19-24) yang masih duduk di bangku sekolah. Publikasi ini hanya menyajikan angka pertisipasi sekolah penduduk miskin pada kelompok umur 7-12 tahun dan 13-15 tahun, yang dapat dugunakan untuk melihat indikasi umum dari pelaksanaan ProgramWajib Belajar 9 TAHUN.
            KETENAGAKERJAAN
·         Kategori “TIDAK bekerja” dalam publikasi ini termasuk pengangguran dan penduduk bukan angkatan kerja.
            KESEHATAN
·         Imunisasi atau vaksinasi adalah memasukkan kuman atau racun penyakit tertentu yang sudah dilemahkan (vaksin) ke dalam tubuh dengan cara disuntik atau diminum (ditetaskan ke dalam mulut), dengan maksud agar terjadi kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu.
·         Salah satu jenis pelayanan kesehatan yang akan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayi adalah pelayanan proses persalinan. Keberhasilan proses persalinan.
            PENGELUARAN PERKAPITA
·         Pengeluaran perkapita untuk makanan adalah rata-rata pengeluaran rumah tangga dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga yang bersangkutan.
            FASILITAS PERUMAHAN
·         Rumah tangga pengguna air bersih adalah perssentase rumah tangga yang menggunakan air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur atau mata air terlindung (dengan jarak ke penampung lebih dari 10 meter).
·         Jamban (septik tank) adalah fasilitas tempat pembuangan air besar yang digunakan oleh rumah tangga.
BAB III
3.1       DESKRIPSI
            Dilihat dari data yang dihimpun atau dikumpulkan, kemiskinan dari 3 tahun terakhir ini mengalami penurunan. Hal ini tentu membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor yang mendorong penurunan jumlah tingkat kemiskinan itu adalah pembangunan yang sudah mulai membaik. Karena bisa dilihat dari pengeluaran per kapitanya sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tingkat kemiskinan di beberapa tahun terakhir ini bisa tergolong membaik, karena dilihat dari data tingkat kemiskinan dari tahun ketahun mengalami penurunan, berarti kebijakan atau solusi yang diterapkan atau diberlakukan disana berjalan sesuai ketentuan yang diharapkan. Kebijakan yang diberikan tersebut memberikan dampak positif terhadap tingkat kemiskinan yang ada.
            Tata kelola untuk tingkat kemiskinan ini juga sudah mulai membaik, sama halnya dengan tingkat kemiskinan yang ada, sudah memberikan dampak positif. Untuk lebih mendukung tata kelola yang sudah membaik ini, disalah satu daerah di rancang suatu program yang dinamakan PKH ( Program Keluarga Harapan ), program ini baru di terapkan di daerah Pesisir Selatan, program ini baru dimulai, baru ada di data akhir – akhir ini, hasil dari program ini belum Nampak. Jika program ini memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi atau tingkat kemiskinan, mungkin saja program ini diterapkan juga didaerah lain.
            Potensi ekonomi yang ada dapat dilihat dari beberapa program yang dibentuk oleh pemerintah, ada berupa BLT, subsidi BBM, dengan adanya program pemerintah ini kita bisa menganalisa bagaimana potensi ekonomi di daerah tersebut, bisa saja dengan adanya program dari pemerintah ini masalah tingkat kemiskinan yang ada berkurang atau mengalami penurunan. Jadi, pemerintah tidak sia – sia menerapkan program ini, karena lebih kurang bisa membantu masalah yang sedang dihadapi. Ketidakmampuan yang dihadapi dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan itu adalah memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari yang diukur dari sisi pengeluaran.
            Kebijakan pemerintah yang paling efektif dari sekian banyak kebijakan yang ingin diterapkan, yang paling efektif untuk menanggulangi tingkat kemiskinan adalah dengan cara memperbesar lapangan pekerjaan. Karena untuk saat sekarang ini, untuk masalah lapangan pekerjaan ini sangat minim sekali. Para pencari kerja lebih dominan atau lebih banyak dari lapangan kerja yang ada. Hal ini tentu mengakibatkan terjadinya pengangguran yang banyak, karena ketidakseimbangan antara pencari kerja dengan lapangan kerjanya. Seharusnya pemerintah lebih memfokuskan untuk mengarahkan para pencari kerja untuk menciptakan lapangan kerja baru, karena kalau untuk saat sekarang ini, skill atau keterampilan yang mereka punya sudah mapan untuk menciptakan lapangan kerja baru, namun mungkin terkendala dengan sarana dan prasarana yang ada, karena dari
            Dinas Pendidikan sendiri sudah ada menerapkan program pertukaran pelajar atau memberikan pelatihan keterampilan. Namun, program ini terkendala dengan salah satu masalah yaitu biaya (biaya tambahan), jadi program ini tidak begitu berjalan karena masih terbentur dengan masalah sarana dan prasarana yang ada, sehingga program ini belum begitu efektif untuk menanggulangi masalah penggangguran yang berdampak terhadap tingkat kemiskinan.
            Selain itu, dinas sosial juga ada memberikan solusi untuk menanggulangi masalah kemiskinan, bagi anak terlantar pemerintah telah menyediakan rumah singgah untuk mengasah keterampilan yang mereka punya, namun program ini tidak berjalan dengan lancer, karena masih banyak dari orang tua anak terlantar tersebut yang tidak mau menyerahkan anak – anaknya ke rumah singgah tersebut, para orang tua tersebut lebih suka meminta anaknya untuk bekerja daripada mengembangkan keterampilan yang dimiliki anaknya. Hal ini bisa terjadi mungkin dikarenakan dari pendidikan orang tuanya yang rendah, sehingga dia menggangap anakanya juga akan sama seperti dirinya.
            Kriteria rumah tangga yang dianggap miskin itu dilihat dari air, tempat pembuangan wc, konsumsi, tempat masak yang di miliki rumah tangga tersebut. Kriteria ini diterapkan karena rumah tangga yang benar – benar seperti rumah tangga miskin itu sudah tidak ada lagi, maka dari itu pemerintah melihat kriteria orang miskin daripengeluaran dari rumah tangga tersebut.
            Peran ekonomi perencanaan disini adalah untuk kontribusi subsector yang berbentuk neraca untuk menghitung PDRB, di dalam ekonomi perencanaan ini yang dibahas adalah bagaimana kebijakan untuk masa yang akan datang, jadi dengan adanya data – data dari tahun sebelumnya bisa dibuat kebijakan untuk menanggulangi masalah yang dihadapi saat itu atau masalah yang akan dating, atau kebijakan yang baik untuk masa yang akan dating untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi di tahun sebelumnya.

3.2       ANALISIS
            Tugas dan wewenang dari BPS adalah sensus dan survey, survey disini bisa saja ditambah dengan survey tambahan, mungkin saja saat itu dibutuhkan survey tambahan, jadi di BPS ini tugasnya hanya menghimpun data, masalah penyelesaiannya biasanya BPS hanya memberikan saran kepada pemerintah, dan selanjutnya secara bermusyawarah bersama – sama dengan dinas – dinas lain membicarakan solusi terbaik untuk penyelesaian masalah tersebut. Tapi, keputusan tetap pemerintah yang menetapkan, kebijakan yang akan diambil untuk masalah tersebut. Kendala kinerja dari BPS mungkin susahnya menemui responden sehingga data yang didapatkan kadang tidak valid, dan responden itu sendiri dalam menjawab pertanyaan dari BPS yang ingin mendata. Kadang – kadang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. (wawancanara oleh Poetri Marissa, Statistik Sosial).



BAB IV
PENUTUP
4.1       KESIMPULAN
            BPS menyajikan data dan informasi kemiskinan untuk tingkat kabupaten/kota dengan menggunakan data Susenas Kor (susenas modul konsumsi). Susenas modul konsumsi dilakukan setiap triwulan dengan jumlah sampel sekitar 75.000 rumahtangga per triwulannya. Dari hasil sensus dan survey, BPS langsung mengelola data dan langsung diserahkan ke pemerintah.Data dari BPS tersebut akan menjadi pertimbangan pemerintah dalam menangani masalah kemiskinan dan lainnya.

4.2       SARAN
            Badan Pusat Statistik (BPS) telah mendata setiap tahunnya tentang perkembangan kemiskinan, yangmana akan diserahkan langsung kepada pemerintah. Diharapkan kepada pemerintah agar lebih bijaksana lagi dalam menangani serta memberi kebijakan yang efektif terhadap penanggulangan kemiskinan di seluruh daerah di Indonesia ini. Pendataan pada lapangan yang dilakukan oleh BPSpun harus ditingkatkan. Terlihat jelas kurang validnya data yang diperoleh. Dimana data yang menyatakan penduduk miskin tiap tahunnya berkurang. Nyatanya kita melihat jumlah penduduk miskin semakin meningkat. Ini diakibatkan oleh penduduk yang tidak mau transparan tentang perekonomiannya serta tidak mengetahui manfaat dari BPS tersebut.

4.3       DOKUMENTASI
BADAN PUSAT STATISTIK (BPS)

BAGIAN URUSAN DALAM
PELAYANAN DATA

PROSES WAWANCARA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar